Headlines News :
Home » »

Written By Zarkasyi on 04 Juli 2009 | 14.29

Mereka, Dirindukan Surga
Oleh: Zarkasyi Yusuf



Surga (Al-Jannah), nama yang indah terdengar di telinga dan indah pula dibayangkan, semua manusia mengimpikan surga, menginginkan menjadi penikmat nikmat surga atau ahlu al-Jannah, semua manusia merindukan Surga. Namun perlu diingat bahwa surga bukan benda yang dapat dibeli dengan uang, tidak ada materi yang mampu membeli surga dengan harga berapa pun, surga hanya dapat dibeli dengan amal dan keridhaan Allah swt, jika tidak mustahil dapat surga. Surga adalah impian nyata yang akan didapat dengan ketekunan manusia mengabdi kepada sang Pencipta, pencipta surga yang menjadi target incar manusia.
Tidak ada seorang pun manusia yang tidak mendambakan surga, tidak menginginkan surga menjadi tempat terakhir yang kekal dan abadi baginya, singktanya semua manusia merindukan surga. Rindu kepada surga adalah sesuatau yang wajar dan biasa, namun akan luar biasa jika surga merindukan mereka yang juga merindukan surga, surga mendambakan bahwa mereka yang akan menjadi penghuninya, menginginkan mereka merasakan kenikmatan yang disediakan Allah di dalamnya. Tentu tidak semua atau sembarang orang yang dirindukan Surga, tentu juga mereka ini punya nilai lebih dalam amalan mereka, jelasnya, mereka yang dirindukan surga adalah manusia-manusia hebat makhluk Allah swt, lalu siapakah mereka?
Rasulullah menegaskan dalam sebuah hadist bahwa Surga merindukan empat golongan manusia, yaitu; orang yang membaca Al-Qur’an (Taalil al-Qur’an), orang yang menjaga lisan (Hafidhul al-Lisan), orang yang memberikan makan yang lapar (Muth’imul al-Ji’an) dan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan (Shaim fi Ramadhan). Mereka inilah yang selalu dirindukan Surga.
Taalil al-Qur’an
Orang yang membaca al-Qur’an akan menjadi idaman surga, selalu dirindukannya. Membaca al-Qur’an dengan kaidah yang benar, menggunakan ilmu tajwid sebagai standar bacaan, bukan malah protes dengan tajwid. Membaca al-Qur’an adalah amalan yang sangat mulia, membaca al-Qur’an secara tidak langsung berarti “berbicara” dengan sang pemilik sifat Kalam, namun mengapa sekarang orang alergi dengan membaca al-Qur’an. Bahkan ini menuai perdebatan panjang, apalagi bagi mereka yang akan bertarung menjadi anggota terhormat wakil rakyat, mengapa mereka enggan dengan membaca al-Qur’an apalagi dengan tajwid, ini sungguh ironi besar di tengah syariat Islam yang berkumanadang di Serambi Mekkah. Yakinlah! membaca al-Qur’an amalan besar, tidak hanya manusia surga saja rindu kepada mereka yang membacanya. Jangan takut baca al-Qur’an!
Namun, tidak hanya membaca yang dimaksud di sini tetapi lebih jauh adalah mengamalkan nilai-nilai al-Qur’an dalam kehidupan, menjadikan al-Qur’an sebagai pelita (an-Nur) dan penawar (as-Syifa’) dalam kehidupan. Singkatnya, menjadikan al-Qur’an sebagai remote control kehidupan. Al-Qur’an juga dijadikan warisan berharga bagi anak-anak cucu di masa yang akan datang, sehingga mereka tidak hilang kendali dan salah arah.
Haafidhul al-Lisan
Pepatah bijak mengatakan “lidah adalah harimau bagi manusia” bahkan syair arab berpesan “salamatul al-Insan hifdhil al-Lisan” (manusia selamat dengan menjaga lisan), lidah tak bertulang demikian pula pesan syair sebuah lagu. Jelasnya lidah memang kecil namun efeknya sangat besar, lidah bisa meneyebabkan nyawa melayang, lidah bisa membuat pertumpahan darah, bahkan lidah juga bisa mengubah kedamaian menjadi konflik yang tidak berpenghujung. Menjaga lisan sama susahnya menjaga harimau ganas, bahkan lebih susah. Menjelang pesta demokrasi lidah memainkan peran untuk menghipnotis, menghipnotis dengan janji manis yang tak pernah dirasakan manis.
Karena efeknya begitu besar, maka menjaga lidah mamfaatnya luar biasa bahkan surga pun rindu kepada mereka yang menjaga lidah. Rasulullah telah menerapkan satu konsep agar lidah yang tak bertulang selamat, tidak melafalkan sesuatu yang tidak bermamfaat apalagi memberi mudharat, konsep tersebut adalah berkatalah benar atau diam, jika tidak sanggup berkata benar maka lebih baik diam. Marilah jaga lidah, jadikan lisan kita penuh hikmah dalam hidup ini.
Muth’imul Jiian’
Memberikan makan kepada yang lapar merupakan pekerjaan mulia, serta dianjurkan dalam agama. Dalam surat al-Maun Allah mengecam orang-orang yang tidak memberi makan kepada fakir miskin dengan ancaman orang yang mensutakan agama, beragama namun dinilai mendustakannya, itulah stempel buruk yang diberikan Allah kepada siapa saja yang tidak memiliki kepekaan menolong orang lain. Secara luas Muth’imul Jiian’ dapat diartikan dengan kepekaan sosial yang tinggi, memiliki kepekaan terhadap penderitaan orang lain, selalu menumbuhkan kembangkan budaya SMS (susah melihat orang susah) dan senang melihat orang senang. Kondisi sekarang, kepekaan terhadap penderitaan orang lain sudah memudar, bahkan di hati mereka yang menjadi anggota terhormat, jaring aspirasi Raqan wali Nanggroe dengan tujuan utama bertemu Hasan Tiro yang hasilnya nihil, ini merupakan salah satu contoh kecil hilangnya kepekaan sosial, masih banyak rakyat Aceh yang membutuhkan pertolongan, masih ada anak-anak yang butuh sekolah, masih berseliweran orang-orang miskin yang butuh tempat tinggal yang layak. Bayangkan! Jika duit untuk jaring aspirasi itu diserahkan kepada mereka, berapa banyak yang sudah terbantu?
Kepekaan sosial, rela saling bantu membatu adalah hal langka yang sulit didapat apalagi di zaman modern seperti sekarang, orang lebih cenderung menonjolkan individualisme dalam kehidupan, budaya masa bodoh dengan kesusahan orang kini bergentayangan dimana-mana, budaya SMS (Senang melihat orang susah) pun bermunculan dimana-mana. Mari tumbuhkan kepekaan untuk membantu sesama karena itu adalah tugas mulia, jangan lenyapkan rasa persaudaraan yang telah terbina oleh egoisme yang tidak beralasan, kembalikan semboyan lam baten sama rata yang dulu pernah ada di Serambi Mekkah ini.
Shaim Fi Ramadhan
Berpuasa di bulan Ramadhan adalah kewajiban setiap muslim yang mengaku beriman kepada Allah swt, berpuasa selama satu bulan penuh dalam setahun, menahan segala yang dapat membatalkan puasa dan membatalkan pahala dari puasa itu sendiri, mengisi hari-hari selama berpuasa dengan amal ibadah kepada Allah swt. Jika dikaji secara mendalam bahwa setiap perintah Allah menyimpan sejuta hikmah dan mamfaat, begitu pula halnya dengan puasa Ramadhan, kendati konsekuensinya lapar dan dahaga namun puasa memiliki banyak hikmah, salah satu diantaranya adalah sehat, Rasulullah menegaskan berpuasalah kamu niscaya kamu akan sehat. Mari jaga puasa Ramadhan dengan baik, selamatkan puasa Ramadhan dari segala titik hitam yang dapat menghilangkan nilai puasa itu sendiri, jangan takut! disamping sehat, orang yang berpuasa Ramadhan juga diimpikan dan dirindukan oleh surga.
Keempat golongan tersebut dirindukan oleh surga, surga sangat mengharapkan golongan-golongan tersebut, jika saat ini kita berada dalam salah satu diantara golongan ini mari pertahankan hingga ajal tiba, jika belum kerahkan segenap upaya agar termasuk dalam golongan ini, ingat surga menanti kita. Selamat berjuang meraih negeri impian, negeri indah penuh rahmat, makmur dengan karunia Allah swt.


Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ABIZAR INSTITUTE - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger